Meniti Jalan Hidayah dengan Bekal Takwa

Seorang hamba tidak akan mampu mengenal Islam, apalagi menerima dan mengamalkannya, kecuali dengan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Hidayah itulah yang menggerakkan hati untuk menerima kebenaran dan memasuki agama Allah. Namun, hidayah tidak berhenti pada tahap awal keislaman semata. Setelah seorang hamba berada di atas jalan Allah, ia masih sangat membutuhkan hidayah berikutnya, yaitu hidayah untuk tetap istiqamah menapaki jalan tersebut.

Jalan menuju Allah bukanlah jalan yang tanpa rintangan. Di atasnya terdapat ujian, cobaan, dan berbagai tantangan yang dapat melemahkan semangat dan melalaikan hati. Karena itulah, seorang mukmin memerlukan hidayah yang terus-menerus, yang membangkitkan kesadaran, menata jiwa, memperbaiki diri, dan menguatkan langkah dalam meraih keridaan Allah. Di jalan inilah seorang hamba berpacu menuju derajat-derajat ketinggian, baik di dunia maupun di akhirat.

Oleh sebab itu, kaum muslimin diperintahkan untuk saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran, saling mengingatkan di atas agama ini. Terlebih ketika berada di bulan yang mulia, bulan Ramadhan, momentum untuk menata jiwa dan mendidik diri agar semakin dekat kepada Allah menjadi semakin besar.

Wasiat Allah untuk Seluruh Umat: Bertakwa kepada-Nya

Wasiat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta‘ala sampaikan kepada seluruh makhluk-Nya adalah wasiat takwa. Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu agar bertakwa kepada Allah.” (QS. An-Nisa: 131)

Takwa adalah wasiat yang telah disampaikan kepada umat-umat terdahulu dan juga diwasiatkan kepada umat Islam. Ia merupakan pokok ajaran dan inti dari seluruh syariat. Tidaklah mengherankan jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa mengulang wasiat ini dalam khutbah-khutbah beliau. Dalam banyak kesempatan, beliau membaca ayat-ayat yang seluruhnya berisi perintah untuk bertakwa kepada Allah.

Di antaranya firman Allah Ta‘ala:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian.”
(QS. An-Nisa: 1)

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
(QS. Al-Ahzab: 70)

Dalam sebuah nasihat yang begitu menyentuh hati para sahabat hingga air mata mereka mengalir, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda ketika diminta wasiat:

“Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah.”

Takwa sebagai Tujuan Puasa

Takwa inilah yang menjadi ruh dan tujuan utama dari ibadah puasa. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Secara bahasa, takwa berasal dari kata al-wiqayah, yaitu sesuatu yang menjadi penghalang atau pelindung. Dengan takwa, seorang hamba membentengi dirinya dari kemurkaan Allah, dari azab neraka, dan dari segala hal yang dapat menjauhkannya dari keselamatan.

Para ulama rahimahumullah memberikan penjelasan yang beragam tentang makna takwa. Di antara definisi yang paling ringkas dan menyeluruh adalah perkataan Thalq bin Habib rahimahullah:

“Takwa adalah engkau beramal ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah, dengan mengharapkan pahala dari Allah; dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah, karena takut terhadap siksa Allah.”

Definisi ini menunjukkan bahwa takwa mencakup ilmu dan amal, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Takwa bukan sekadar perasaan dalam hati, tetapi terwujud dalam ketaatan yang nyata dan sikap menjauhi dosa.

Ciri-Ciri Orang Bertakwa dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an seluruhnya merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Allah Ta‘ala berfirman di awal surah Al-Baqarah:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 2)

Kemudian Allah menjelaskan sifat-sifat mereka: beriman kepada perkara yang gaib, menegakkan shalat, menginfakkan rezeki yang Allah berikan, beriman kepada wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan para nabi sebelumnya, serta meyakini adanya akhirat. Mereka itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk dari Rabb mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Allah juga menyebutkan keutamaan besar bagi orang-orang yang bertakwa dalam firman-Nya:

“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Rabb-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Ali ‘Imran: 133)

Kemudian Allah menyebutkan sifat-sifat mereka: gemar berinfak baik dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, mudah memaafkan manusia, dan berbuat ihsan. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Sifat-sifat ini tampak jelas dan tersebar luas di bulan Ramadhan. Semangat berlomba dalam kebaikan, banyak bersedekah, menahan emosi, memperluas maaf, dan memperbanyak amal shalih adalah buah dari puasa yang benar.

Takwa Membimbing Hamba Menjauhi Dosa

Takwa juga berfungsi sebagai pengingat ketika seorang hamba tergelincir dalam dosa. Allah Ta‘ala menyebutkan:

“Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka.”
(QS. Ali ‘Imran: 135)

Takwa membimbing hati untuk segera kembali kepada Allah, tidak terus-menerus berada dalam dosa, dan selalu membuka pintu taubat. Inilah keindahan takwa dan perannya dalam membentuk jiwa yang hidup dan sadar.

Penutup

Bulan Ramadhan adalah rahmat dan karunia besar dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ia menjadi kesempatan emas untuk merenungi makna takwa, menanamkannya dalam hati, dan mewujudkannya dalam amal nyata. Takwa di bulan Ramadhan adalah kemenangan bagi seorang hamba dan jalan menuju kebahagiaan sejati.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala senantiasa membimbing kita di atas jalan yang lurus, mendidik hati-hati kita dengan takwa, serta memudahkan kita untuk mengamalkan seluruh ajaran agama ini, baik pokok maupun cabangnya. Semoga takwa menjadi sebab kebaikan kita di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Keterangan Sumber:
Disajikan dari catatan kajian Ustadz Dzulqarnain M Sunusi حفظه الله

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *