Memurnikan Ibadah di Bulan Ramadhan
![]() |
Bulan Ramadhan adalah bulan yang sarat dengan makna penghambaan. Di bulan yang mulia ini, seorang muslim diajak untuk kembali menegakkan panji-panji tauhid dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Hakikat kehidupan manusia memang diciptakan untuk tujuan tersebut. Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh bentuk ketaatan, terlebih ibadah-ibadah pokok dalam Islam, harus selalu diarahkan kepada tujuan utama, yaitu memurnikan penghambaan kepada Allah dan meluruskan ketaatan hanya kepada-Nya. Tanpa kemurnian ini, ibadah kehilangan ruh dan maknanya.
Keikhlasan sebagai Syarat Diterimanya Ibadah
Dalam ibadah puasa, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan pentingnya tauhid dan keikhlasan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).
Hadits ini menunjukkan dua syarat utama diterimanya ibadah puasa: iman dan ihtisab (mengharap pahala). Iman adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah, sedangkan ihtisab adalah keikhlasan, beramal semata-mata karena Allah. Tanpa dua hal ini, keutamaan puasa tidak akan diraih.
Makna ini juga berlaku pada ibadah-ibadah lainnya, seperti shalat malam di bulan Ramadhan dan shalat malam pada Lailatul Qadr. Seluruhnya mensyaratkan keimanan dan keikhlasan agar ibadah bernilai di sisi Allah.
Seluruh Ibadah Harus Diliputi Tauhid
Allah Subhanahu wa Ta‘ala tidak menerima amal seorang hamba kecuali yang dikerjakan dengan ikhlas. Allah Ta‘ala berfirman:
“Ingatlah, hanya milik Allah agama yang ikhlas.”
(QS. Az-Zumar: 3)
Makna keikhlasan ini harus dihadirkan dalam seluruh aspek ibadah, bukan hanya puasa. Allah Ta‘ala berfirman:
“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya.”
(QS. Al-An‘am: 162–163)
Demikian pula zakat, haji, dan seluruh bentuk ketaatan, semuanya mengandung panji-panji tauhid dan lambang penghambaan kepada Allah. Puasa secara khusus sangat membantu seorang hamba untuk melatih keikhlasan, karena hakikat puasa adalah rahasia antara hamba dan Rabb-nya. Seseorang bisa mengaku berpuasa, namun yang benar-benar mengetahui kejujurannya hanyalah Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Puasa, Ibadah yang Allah Khususkan untuk-Nya
Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan, satu kebaikan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari no. 1761 dan Muslim no. 1946).
Hadits ini menunjukkan kemuliaan puasa dan kedudukannya sebagai ibadah yang sangat erat dengan keikhlasan dan pemurnian penghambaan kepada Allah.
Tujuan Ibadah Puasa adalah Takwa
Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjelaskan tujuan utama dari ibadah puasa dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Takwa berpangkal pada kalimat Lā ilāha illallāh, yang disebut sebagai kalimat takwa. Inilah inti agama dan dasar seluruh ketaatan. Dengan puasa, seorang hamba seharusnya semakin tulus kepada Allah, semakin dekat kepada Rabb-nya, dan semakin mengagungkan Allah dalam hatinya.
Ramadhan juga merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an. Membaca, mempelajari, dan mentadabburinya adalah bagian dari keimanan dan bentuk penghambaan kepada Allah. Inilah dakwah seluruh nabi dan rasul, menyeru umatnya agar beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul, (dengan seruan): ‘Beribadahlah kepada Allah dan jauhilah thaghut.’”
(QS. An-Nahl: 36)
Tauhid Jaminan Keselamatan
Kemurnian tauhid adalah jaminan keselamatan seorang hamba. Pengampunan dosa hanya diberikan kepada orang yang bertauhid. Adapun kesyirikan, jika tidak ditaubati, akan menggugurkan seluruh amal. Allah Ta‘ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nisa: 48)
Allah juga berfirman kepada Nabi-Nya:
“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi sebelum engkau, jika engkau berbuat syirik, niscaya akan hapus seluruh amalmu dan engkau termasuk orang-orang yang merugi.”
(QS. Az-Zumar: 65)
Oleh karena itu, tidak benar jika seseorang berpuasa namun masih menggantungkan ibadahnya kepada selain Allah, meminta dan mengagungkan selain-Nya. Kesyirikan adalah perkara yang paling besar bahayanya dan paling merusak amal.
Ramadhan sebagai Madrasah Keikhlasan
Ramadhan adalah madrasah pendidikan jiwa. Di bulan ini, seorang hamba dilatih untuk mengikhlaskan ibadah, membersihkan niat, dan membiasakan diri dengan amalan yang dicintai serta diridhai Allah. Harapannya, latihan ini berbuah istiqamah di sebelas bulan berikutnya.
Penutup
Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menganugerahkan kepada kita semua keikhlasan dan kemurnian dalam beribadah kepada-Nya di setiap waktu. Semoga Allah menjauhkan amal-amal kita dari riya’, kesyirikan, dan segala hal yang dapat menggugurkan pahala. Dan semoga Ramadhan menjadi sarana pendidikan yang membentuk jiwa kita agar senantiasa berada di atas tauhid dan ketaatan hingga akhir hayat. Aamiin Yaa Rabbal Alamin
Keterangan Sumber:
Disajikan dari catatan kajian Ustadz Dzulqarnain M Sunusi حفظه الله

