Keberkahan dalam Makan Sahur
![]() |
“Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari No. 1923 dan Muslim No. 1095).
Hadits ini menunjukkan bahwa sahur bukan sekadar aktivitas makan sebelum fajar, melainkan ibadah sunnah yang dianjurkan dengan penekanan kuat karena kandungan keberkahannya.
Hakikat Keberkahan Sahur
Para ulama menjelaskan bahwa perintah sahur dalam hadits ini dipahami sebagai sunnah yang sangat dianjurkan, bukan kewajiban. Adapun keberkahan yang terdapat pada sahur mencakup keberkahan dunia dan keberkahan akhirat.
Keberkahan akhirat tampak dari banyak sisi. Orang yang makan sahur berada pada waktu sepertiga malam terakhir, waktu yang sangat utama untuk berdoa. Ia berkesempatan untuk memperbanyak istighfar, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
“Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.”
(QS. Adz-Dzariyat: 18)
Pada waktu ini pula seseorang dapat menunaikan shalat malam dan witir bagi yang belum melaksanakannya. Bahkan, sahur sering kali menjadi sebab seseorang berbagi makanan dengan keluarga atau tetangga, yang bernilai sedekah dan kebaikan yang pahalanya terus mengalir.
Adapun keberkahan dunia, sahur membantu seorang hamba untuk lebih kuat dan bersemangat dalam menjalankan puasa. Orang yang bersahur umumnya lebih mampu menjaga kesabaran dan kekhusyukan ibadahnya dibandingkan mereka yang meninggalkannya. Hal ini sangat terasa, terutama bagi anak-anak yang sedang dilatih untuk berpuasa. Selain itu, keberkahan sahur juga berdampak pada kehidupan kaum muslimin secara umum, karena aktivitas konsumsi yang dilakukan dengan niat ibadah mendatangkan kebaikan dan keberkahan dalam muamalah mereka.
Memahami Makna Berkah dalam Islam
Ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa dalam sahur terdapat keberkahan menjadi pelajaran penting bagi seorang muslim agar senantiasa mencari dan memilih jalan hidup yang penuh berkah. Para ulama mendefinisikan berkah sebagai tetapnya kebaikan ilahi pada sesuatu. Dengan keberkahan, sesuatu yang sedikit bisa mencukupi, dan amal yang singkat dapat menghasilkan pahala yang berlipat ganda.
Inilah yang tampak jelas pada bulan Ramadhan. Seluruh amal ketaatan dilipatgandakan pahalanya. Di antara keberkahan terbesar bulan ini adalah adanya malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah memberikan kepada umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam satu malam yang nilainya setara dengan ibadah sepanjang lebih dari delapan puluh tahun.
Puasa dan Kesabaran Tanpa Batas
Puasa itu sendiri adalah sumber keberkahan yang agung. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Berpuasalah kalian, karena tidak ada amalan yang sebanding dengannya.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, sanadnya sahih)
Dalam hadits qudsi, Allah Ta‘ala berfirman bahwa semua amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Puasa adalah untuk Allah, dan Dia sendiri yang akan memberi pahalanya.
Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa firman Allah tentang pahala orang-orang yang bersabar tanpa batas berkaitan erat dengan puasa. Puasa mengandung tiga bentuk kesabaran sekaligus: sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar dalam meninggalkan larangan-Nya, dan sabar dalam menerima ketentuan serta takdir-Nya.
Al-Qur’an, Sumber Keberkahan Kehidupan
Ramadhan juga dimuliakan dengan diturunkannya Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah sumber keberkahan bagi kehidupan seorang hamba. Allah Ta‘ala berfirman:
“Ini adalah Kitab yang penuh berkah yang Kami turunkan kepadamu agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mendapat pelajaran.”
(QS. Shad: 29)
Setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca bernilai sepuluh kebaikan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Bacalah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan dan meninggalkannya adalah kerugian.”
(HR. Muslim)
Banyak orang merasakan bahwa ketika mereka meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, urusan hidup mereka dimudahkan, aktivitas menjadi lebih teratur, dan umur terasa lebih bermakna. Inilah wujud nyata keberkahan Al-Qur’an dalam kehidupan seorang hamba.
Taqwa sebagai Pintu Keberkahan
Tujuan utama Ramadhan adalah melahirkan ketakwaan. Ketakwaan inilah sebab utama datangnya keberkahan dan kemudahan hidup. Allah Ta‘ala berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. Ath-Thalaq: 2–3)
Di bulan ini, shalat tarawih bersama imam hingga selesai dicatat seperti shalat semalam suntuk. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya seseorang apabila shalat bersama imam sampai selesai, maka dicatat baginya pahala shalat semalam suntuk.”
(HR. At-Tirmidzi dan lainnya)
Sedekah, memberi buka puasa, dan menunaikan zakat dilipatgandakan pahalanya. Allah memberikan perumpamaan:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai terdapat seratus biji.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki sesuai dengan keikhlasan dan kesesuaian amal tersebut dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Penutup
Seluruh amalan Ramadhan, mulai dari sahur, puasa, shalat, membaca Al-Qur’an, hingga sedekah dan zikir, adalah sebab-sebab keberkahan dalam kehidupan. Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk menata hidup agar terbiasa dengan kebaikan dan keberkahan. Dengan memilih jalan yang penuh berkah, hidup menjadi lebih lapang, amal terasa ringan, dan kebaikan senantiasa menyertai langkah seorang hamba. Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan taufik kepada kita semua untuk memanfaatkan Ramadhan sebagai bulan keberkahan yang hakiki. Wallahu a‘lam.
Keterangan Sumber:
Disajikan dari catatan kajian Ustadz Dzulqarnain M Sunusi حفظه الله

