Jalan Kebahagiaan Mengikuti Sunnah Nabi Muhammad ﷺ
![]() |
Kebahagiaan seorang muslim dan muslimah tidak terletak pada banyaknya amalan semata, tetapi pada ketenangan hati ketika beribadah sesuai dengan syariat yang Allah Subhanahu wa Ta‘ala tetapkan. Syariat tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan mengikat seorang hamba dengan kehidupan Rasulullah ﷺ, karena sejatinya manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah.
Dalam rangka itulah Allah menjadikan para rasul sebagai perantara petunjuk bagi hamba-hamba-Nya, dan Dia memilih bagi umat Islam sosok yang paling mulia dan paling agung, Nabi Muhammad ﷺ, penghulu para nabi dan rasul.
Rasulullah ﷺ diutus sebagai basyīran (pembawa kabar gembira) untuk menjelaskan agama ini, menerangkan jalan Allah, mengajak kepada ketaatan, dan nadzīran (pemberi peringatan) yang menghindarkan umat dari segala hal yang membahayakan kehidupan dunia dan akhirat.
“Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan.”
(QS. Āl An'am: 48)
Dari ayat diatas menjadi bukti kesempurnaan syariat yang beliau bawa, Rasulullah ﷺ tidak hanya menjelaskan jalan kebaikan yang harus ditempuh, tetapi juga memperingatkan jalan keburukan agar umatnya berhati-hati. Tidak ada satu pintu kebaikan pun yang luput dari penjelasan beliau, dan tidak ada satu jalan keburukan pun kecuali telah beliau peringatkan. Inilah bentuk kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya.
Ramadhan dan Keterikatan dengan Sunnah Nabi ﷺ
Di bulan Ramadhan, keterikatan seorang muslim dengan Nabi ﷺ semakin tampak melalui berbagai tuntunan ibadah yang beliau contohkan. Puasa, shalat malam, tilawah Al-Qur’an, hingga adab-adab dalam beramal, semuanya memiliki rujukan yang jelas dari sunnah Rasulullah ﷺ. Namun, semangat beribadah ini harus tetap berada dalam koridor yang benar.
Dalam sebuah peristiwa yang masyhur, yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Anas Radhiyallahu anhu ia berkata :
“Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Lalu setelah mereka diberitahukan (tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), mereka menganggap ibadah Beliau itu sedikit sekali. Mereka berkata, “Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ! Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diberikan ampunan atas semua dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang.” Salah seorang dari mereka mengatakan, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Lalu orang yang lainnya menimpali, “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka.” Kemudian yang lainnya lagi berkata, “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya.”
"Kemudian, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka, seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allâh! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allâh dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari, No 5063 dan Muslim No 1401)
Hadits ini menjadi kaidah besar dalam beragama: ibadah yang benar adalah ibadah yang mengikuti sunnah, bukan sekadar semangat tanpa tuntunan. Islam bukan agama yang mengajarkan sikap berlebihan, melainkan agama yang seimbang dan penuh hikmah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.
Bukti Cinta kepada Rasulullah ﷺ
Setiap orang dapat mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, namun pengakuan itu harus dibuktikan dengan mengikuti beliau. Allah Ta‘ala berfirman:
“Katakanlah (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Āli ‘Imrān: 31)
Ayat ini menegaskan bahwa jalan meraih cinta Allah hanyalah dengan mengikuti Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, dalam beragama tidak cukup hanya bersyahadat lā ilāha illallāh, tetapi harus disempurnakan dengan syahadat Muhammadur Rasūlullāh. Dalam Surah Al-Fatihah, Allah mengajarkan doa agar ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalan Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Jalan tersebut memadukan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah dan keteguhan dalam mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
Enam Kaidah Mengikuti Sunnah
Para ulama menjelaskan bahwa meneladani Rasulullah ﷺ dalam beribadah tidak akan terwujud dengan benar kecuali jika memenuhi enam kaidah pokok. Enam kaidah ini menjadi tolok ukur agar suatu amalan benar-benar sesuai dengan sunnah dan terhindar dari penyimpangan.
Pertama: mencocoki sebab ibadah.
Setiap ibadah yang disyariatkan memiliki sebab tertentu. Sebab inilah yang melahirkan ibadah tersebut. Seorang hamba harus memperhatikan sebab ini agar amalannya sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Contohnya, shalat Tahiyatul Masjid disyariatkan karena sebab masuk masjid. Shalat sunnah wudhu disyariatkan karena sebab telah berwudhu. Apabila seseorang melakukan shalat sunnah dua rakaat tanpa sebab yang disyariatkan, seperti mengaitkannya dengan aktivitas tertentu yang tidak pernah diajarkan, maka amalan tersebut tidak mencocoki sunnah. Demikian pula, shalat Tahiyatul Masjid tidak dilakukan ketika masuk rumah, karena sebabnya tidak terpenuhi.Kedua: mencocoki jenis ibadah.
Ibadah memiliki jenis yang telah ditentukan oleh syariat. Dalam ibadah kurban, misalnya, Rasulullah ﷺ hanya mensyariatkan hewan tertentu, yaitu unta, sapi, dan kambing. Maka berkurban dengan hewan selain yang ditentukan, seperti kuda atau selainnya, tidak sah karena tidak sesuai dengan jenis ibadah yang disyariatkan. Kesesuaian jenis ini menunjukkan ketundukan seorang hamba kepada ketentuan Rasulullah ﷺ, bukan kepada selera atau kebiasaan manusia.Ketiga: mencocoki kadar dan jumlah ibadah.
Syariat juga menetapkan kadar dan jumlah dalam ibadah. Shalat Zhuhur dan Ashar masing-masing empat rakaat. Menambah atau mengurangi jumlah tersebut berarti menyelisihi tuntunan Nabi ﷺ. Oleh karena itu, shalat Zhuhur lima rakaat atau shalat Ashar tiga rakaat tidak sah, meskipun dilakukan dengan niat baik, karena tidak sesuai dengan kadar yang disyariatkan.Keempat: mencocoki kaifiat atau tata cara ibadah.
Setiap ibadah memiliki tata cara yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Shalat, misalnya, dimulai dari takbiratul ihram hingga salam dengan rukun dan urutan tertentu. Puasa pun memiliki kaifiat, dimulai dari niat, menahan diri dari pembatal-pembatal puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Apabila seseorang mengaku telah melaksanakan shalat, namun yang dilakukan hanya dzikir tanpa rukun shalat, atau mengaku berpuasa namun tetap makan dan minum dengan alasan hanya menahan diri dari perbuatan buruk, maka amalan tersebut tidak sesuai dengan kaifiat puasa dan shalat yang disyariatkan.Kelima: mencocoki waktu ibadah.
Banyak ibadah terikat dengan waktu tertentu. Shalat Zhuhur harus dikerjakan pada waktunya, demikian pula puasa Ramadhan harus dilaksanakan di bulan Ramadhan. Tidak sah melaksanakan shalat Zhuhur di waktu Dhuha, atau berpuasa Ramadhan di bulan Sya‘ban, karena ibadah tersebut tidak dilakukan pada waktu yang telah ditentukan oleh syariat.Keenam: mencocoki tempat ibadah.
Sebagian ibadah disyariatkan dengan tempat tertentu. Wukuf dalam ibadah haji harus dilakukan di Arafah. Apabila seseorang wukuf di tempat lain pada tanggal 9 Dzulhijjah, seperti di Muzdalifah, maka hajinya tidak sah. Demikian pula itikaf, tempatnya adalah di masjid. Melakukan itikaf di rumah tidak dianggap sebagai itikaf yang sah, karena tidak sesuai dengan tempat yang disyariatkan.
Enam kaidah ini merupakan pedoman penting bagi setiap muslim dan muslimah agar ibadahnya benar-benar berada di atas sunnah Rasulullah ﷺ. Dengan memperhatikan sebab, jenis, kadar, tata cara, waktu, dan tempat ibadah, seorang hamba menjaga kemurnian amalnya serta membuktikan kecintaan yang jujur kepada Rasulullah ﷺ melalui ittiba‘ yang benar.
Penutup: Meneguhkan Langkah di Jalan Rasulullah ﷺ
Inilah hakikat kehidupan seorang muslim dan muslimah: hidup meneladani Rasulullah ﷺ, mencintai ajaran beliau, menapaki jalannya, serta menjauhi larangan-larangan yang telah beliau peringatkan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seseorang akan dikumpulkan bersama dengan siapa yang ia cintai. Walaupun kita tidak mampu mencapai derajat Rasulullah ﷺ dan para sahabat, namun dengan kejujuran cinta yang dibuktikan melalui ittibā‘, kita berharap dikumpulkan bersama mereka di akhirat kelak.
Jangan sampai kehidupan dunia ini berlalu tanpa upaya mengikuti jalan Nabi ﷺ, karena penyesalan di hari kiamat sangatlah dahsyat. Ramadhan adalah momen yang indah untuk melatih diri agar setiap langkah, ucapan, dan ibadah senantiasa dicocokkan dengan sunnah Rasulullah ﷺ. Agama beliau terjaga dan syariatnya sempurna hingga hari kiamat. Tinggal bagaimana kita mempelajarinya, mengamalkannya, dan menjadikan seluruh perjalanan hidup ini sebagai bukti kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Keterangan Sumber:
Disajikan dari catatan kajian Ustadz Dzulqarnain M Sunusi حفظه الله

